Judul: Pride and Prejudice: Keangkuhan dan Prasangka
Penulis: Jane Austen
Penerjemah: Yunita Chandra
Editor: M. Syarif Mansyur
Penerbit: Bukune
Tahun: 2011
Hlm: 452
ISBN: 602-8066-88-5

Review:


Pride and Prejudice ini gaungnya sudah kemana-mana. Tapi saya baru baca sekarang. Telat? Ah, nggak juga. Better late than never. Yang jelas novel klasik ini untuk sepanjang masa. Tidak ada tanggal kadaluarsanya. Siapa pun boleh baca. Pamor novel klasik karya Jane Austen ini mau tidak mau membuat saya tertarik membaca bukunya. Walaupun sebenarnya rasa tertarik ini lebih karena adaptasi filmnya yang dibintangi Keira Knightly sulit saya pahami. Serasa ada yang missed, yah problematika umum yang selalu dialami film adaptasi novel.

Terjemahan novel Pride and Prejudice ternyata ada dua versi dari dua penerbit yang berbeda. Dengan alasan ekonomis saya akhirnya membeli terbitan yang dimensinya lebih kecil. Covernya manis, desainnya menampakkan lukisan siluet pria dan wanita era abad 19, classy. Bahkan covernya glow in the dark lho, lovely.
Dengan semangat saya mulai membaca dan langsung kecewa. Gaya bahasa yang dipilih pengarang menurut saya bagaikan terjemahan langsung dari kamus. Mungkin penerjemahnya ingin setia pada gaya bahasa asli Jane Austen secara ini novel klasik. Tapi menurut saya malah terkesan kaku dan bertele-tele alih-alih nyastra. Ibarat kata guru bahasa Indonesia saya, kalimatnya tidak efektif. Hasilnya, sukses membuat saya bosan setengah mati dan tersiksa.

Sempat saya tinggalkan untuk membaca novel Khokkiri, menonton 5 judul film dan saya bawa bolak-balik Madiun-Yogyakarta. Saya sempat duduk bersebelahan dengan mbak-mbak yang membaca versi penerbit lain, yang covernya pakai model. Saat itu saya baru baca 5 halaman, jadi tak punya ekspektasi atau rasa iri. Tapi sekarang jadi bertanya-tanya, apakah terjemahan penerbit itu lebih tidak membosankan?
Terlepas dari gaya bahasa yang dipilih penerjemahnya, cerita Pride and Prejudice ini rupanya juga tidak konsisten dengan sinopsis di cover novelnya. Berdasarkan sinopsisnya, kisah ini merupakan kisah cinta antara Mr. Darcy dengan Elizabeth tapi ternyata kisah mereka berdua sangat sedikit. Justru yang diceritakan malah kisah cinta saudara-saudara perempuan Elizabeth, tetangganya, sepupunya, ibunya, dst. Mungkin lebih cocok jika dimasukkan dalam family drama abad 19 ya. Terlalu banyak drama keluarga disini meski yang diusung adalah tema pernikahan era Victoria—tepatnya pencarian suami era Victoria.

Saya masih lebih respek sama filmnya yang fokus pada Elizabeth dan Mr.Darcy lalu dengan pintarnya membuang plot yang tidak perlu. Bahkan karakter Elizabeth yang katanya witty pun tidak saya rasakan karena setiap dialog terasa berat, panjang, dan bertele-tele.
Jika dilihat dari kacamata abad 19 mungkin kisah romance ini menggebrak dunia pernovelan dan sangat menginspirasi. Tidak salah kalau sekarang sering disebut sebagai novel klasik populer. Namun bagi saya pecinta penikmat historical-romance, novel yang ditasbihkan sebagai penginspirasi novel-novel romance ini terlalu mengecewakan.

Entah kenapa saya sama sekali tidak bisa menikmatinya dan tersiksa saking bosannya. Masalah plot atau cara gaya bahasanya? Mungkin novel klasik memang bukan genre yang tepat untuk saya. Lain kali saya akan baca edisi penerbit yang lain, mungkin saya bisa mendapat pencerahan. Jane Austen lovers please don't hate me. I think 2 of 5 stars would be fine.

0 comments:

Posting Komentar