Judul: Nyonya Besar: kumpulan kisah kaum sosialita
Penulis: Threes Emir
Penyunting: Nana Soebianto
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 9 Februari 2012
Hlm: 272
ISBN: 9789792279283

Sinopsis:
Nyonya Besar:
Nyonya Besar adalah nyonya penggemar tas merek tertentu yang harganya selangit, ia kesal sekali melihat begitu banyak wanita yang ikutan menentengnya, padahal tas mereka palsu.

Nyonya Besar adalah istri seorang direktur yang gemar musik klasik dan berdansa ballroom, sementara suaminya penikmat musik dangdut. Setengah mati sang Nyonya Besar ingin mengubah selera musik suaminya, namun tak berhasil.

Nyonya Besar adalah seorang nyonya baik hati yang tidak hanya membiayai sekolah anak-anak sopirnya, bahkan juga mengirim si sopir dan istrinya ke Mekah untuk naik haji.

Nyonya Besar adalah seorang ibu yang dengan indra keenamnya mampu melihat anak gadisnya menjadi ”simpanan” pejabat dan dengan tegas membawa kembali putrinya pulang.

Jangan-jangan salah satu Nyonya Besar dalam buku ini punya kisah yang sama dengan Anda atau orang yang Anda kenal....


Review:

Yang terpikir pertama kali ketika mendengar nama Nyonya Besar pastilah ibu-ibu usia paruh baya yang tinggal di rumah gedongan dengan dandanan lengkap, rambut sanggulan heboh dan perhiasan mentereng macam Nyonya super kaya di sinetron. Begitu juga definisi Nyonya Besar yang dikupas dalam buku ini. Threes Emir mengantarkan 25 kisah Nyonya Besar kaum sosialita, baik Nyonya yang benar-benar berbadan besar, berhati besar, sampai berkepala besar. Pokoknya yang bisa dimasukkan dalam kategori besar deh.

Ada Nyonya Besar yang sudah kaya raya tapi masih mau berbagi kepada tetangganya yang kekurangan. Bahkan kalaupun menyumbang suka berlebih-lebih. Kalau membantu tidak tanggung-tanggung. Bahkan sampai Supirnya mau diberangkatkan naik haji saking baiknya. 

Di cerita lain ada kisah Nyonya Besar bernama Isti yang sepeninggal suaminya membagi-bagikan nasi bungkus setiap tanggal dua dan lima belas kepada gelandangan hingga namanya santer dan bahkan ditawari untuk masuk partai oleh seorang politikus karena berjiwa sosial tinggi dan melakukannya tanpa pamrih.

Tidak semua Nyonya Besar disini adalah Ibu-ibu bersuami kaya. Beberapa memang menjadi Nyonya Besar atas usahanya sendiri. Dan tidak melulu kisahnya tentang Nyonya Besar yang suka berbagi, tapi banyak juga kisah tentang Nyonya Besar yang pelit dan haus publisitas.


Ambil contoh Ranti. Nyonya Besar asal Klaten ini menapak karir dari bawah walau tak tamat sarjana hingga akhirnya bisa naik mobil BMW, tinggal di rumah mewah, berlibur ke Singapura dan mencapai jabatan karir tinggi di perusahaannya ini tidak hanya berpenghasilan besar, tapi juga berbadan besar.

Ada juga Nyonya Besar yang haus publikasi. Hanya mau menyumbang apabila namanya diumumkan. Ia merasa sudah selayaknya orang menghormati dirinya. Malah dia tidak rela jika tidak mendapat imbalan apa-apa. Menurutnya imbalan penyebutan nama itu sudah sangat minimal menurutnya.

Lalu cerita paling keren adalah seorang Nyonya Besar yang berakal banyak. Ketika mengetahui penyelewengan suaminya, ia mengatasi hal tersebut dengan anggun dan sangat bermartabat, yaitu mencoba untuk menghardik simpanan suaminya dengan halus namun tanpa sepengetahuan sang suami: 

"Saya tahu kok, Tante, Shila baru saja pergi. Dia itu pergi sama suami saya, Tante, namanya Sutomo. Tante belum kenal dia, kan? Memang sejak kami menikah, saya nggak pernah ketemu Tante lagi. Begini, Tante... tolong ya Tante beri tahu Shila agar jangan ganggu suami saya." ~p.184

Salutnya buku ini minim typo. Atau malah tidak ada typo sama sekali ya? Yang jelas saya nggak menyadari adanya typo. Cuma kenapa ya Covernya menjerumus begitu, biar dilirik kah? Covernya ini sebenernya bikin saya ngeri mau beli karena takut isinya benar-benar menjerumus, tapi toh ternyata isinya sarat nilai moral. Kasihan yang beli kan, jadi kecele. 

Yang lebih aneh lagi adalah buku ini masuk kategori Metropop lho. Memang masih sesuai dengan definisi genre Metropop itu sendiri, yaitu wanita-wanita 'muda' dengan problematikanya selama tinggal di metropolitan. Tapi seingat saya ini seharusnya jadi kisah non-fiksi walau diramu jadi fiksi. Apalagi jauh dari kata 'muda' hehe.

Walau dari segi cerita saya berani acungkan lima jempol namun dari gaya bercerita bisa dibilang bukan gaya favorit saya. Terlalu mencerminkan bahasa sehari-hari yang menurut saya bagai dua sisi mata uang: cerita bisa mengalir luwes sekali atau... kebalikannya lah. Karena saya sangat menyukai pola baku yang rapi jadi terlalu banyak koma dan kata tidak baku dalam buku ini bikin kurang nyaman. Yah~ masalah selera aja sebenernya. 

Btw, setelah buku Nyonya Besar ini Threes Emir rupanya sudah menambahkan lanjutannya, yaitu: Tuan Besar.




PS: Buku ini hadiah menang kuis #KuisSCDD di twitter @fiksimetropop hostnya mas Ijul empunya blog http://metropop-lover.blogspot.com/
PS2: Di posting dalam rangka Baca Bareng Bulan Mei bersama #BBI dengan tema: Buku terbitan Gramedia

0 comments:

Posting Komentar