Judul: Pretties (Uglies #2)
Penulis: Scott Westerfeld
Penerjemah: Yunita Candra
Penyunting: Lulu Fitri Rahman
Proofreader: Barokah Ruziati
Penerbit: Penerbit Matahati
Tahun: Oktober 2010
Hlm: 384
ISBN: 9786028590211
Harga: IDR 60.000

Sinopsis
Pretties:
Tally akhirnya mendapatkan segala yang diinginkannya: wajah cantik, punya pacar tampan, bergabung dengan kelompok paling populer di Kota Rupawan Baru. Semuanya begitu sempurna...

Namun, di balik kegemerlapan itu, ada yang tak beres dalam diri kaum rupawan. Sebuah pesan dari masa lalu mengingatkan Tally akan misinya untuk memulihkan cara berpikir kaum rupawan, yaitu menjadi kelinci percobaan bagi suatu pil penyembuh.

Bersama teman-temannya, Tally diam-diam melakukan pemberontakan. Tanpa disangka, hambatan justru datang dari sahabatnya sendiri. Ketika pertengkaran mereka memuncak, Tally harus berjuang untuk keselamatannya, karena pihak berwenang kota tidak akan segan-segan melawan siapa pun yang merintanginya.

Review:

Tally akhirnya menjadi seorang rupawan. Sekarang ia suka berpesta dan bersenang-senang tanpa henti, dan terutama ia jadi melupakan beberapa hal penting saat ia masih buruk rupa. Tally berbeda. Ia merasa berbeda. Ia merasa bahagia menjadi rupawan.

Tally-wa ingin bergabung dengan kelompok Crim jadi di bantu sahabatnya, Shay-la, menciptakan berbagai keisengan dan lelucon di Kota. Menurutnya tidak ada yang lebih penting selain menjadi anggota Crim--kelompok paling Populer di Kota Rupawan. Selain itu sahabatnya Shay dan Perris sudah bergabung duluan jadi ia harus bisa membuat seluruh anggota Crim menyukainya, dan terutama membuat Zane, pemimpin kelompok terkesan padanya.

Ketika ia resmi bergabung menjadi anggota kelompok Crim, Tally mulai sadar bahwa ada hal penting yang telah ia lupakan. Ia mencoba mengingatnya tapi rasanya sulit, seolah ada kabut dalam kepalanya. Tally bertemu dengan Croy, teman lamanya yang masih menjadi anggota Smoke. Pemuda itu mencoba memberinya pesan, dua butir pil dan surat perjanjian yang pernah Tally tulis sendiri.

Ia ingat bahwa menjadi Rupawan berarti ia memiliki luka dalam otaknya. Luka yang membuat pola pikir seorang manusia normal berubah menjadi dangkal, menjadi segala sesuatu yang ia takuti ketika ia masih buruk rupa. Ia perlu menyembuhkan diri dan kembali ke Smoke. Tally berbagi pil dengan Zane. Pil yang diberikan Croy sedikit mengobatinya, namun konsekuensinya sekarang adalah ia kembali berada di bawah pengawasan ketat Special Circumtances.

Disaat yang sama ia semakin dekat dengan Zane. Pemimpin kelompok Crim itu memiliki aura yang berbeda, semacam kedewasaan, kharisma dan kualitas yang tidak dimiliki para Rupawan. Zane membantunya untuk tetap berpikir jernih. Tally dan Zane segera menjadi pasangan paling terkenal. Mereka berdua terus mencoba berpikir jernih dengan berbagai macam cara. Berpikir jernih diperlukan agar mereka bisa lepas dari pengawasan Special Circumtances lalu kabur ke kota Smoke.

Menjadi Rupawan

Buku kedua jauh lebih menarik dari buku pertama. Scott Westerfeld menggambarkan Kota Rupawan dan sistem pemerintahan kota dengan segala keteraturannya dengan sangat baik. Bahkan detil deskripsi seorang rupawan merupakan hal yang benar-benar jauh diluar ekspektasi saya. Tato yang berputar kencang sesuai kencangnya debar jantungmu. Bola mata yang bertaburan batu permata dan bisa difungsikan sebagai jam yang jarumnya berputar terbalik!!

Pretties membawa kita menyingkap kabut Kota Rupawan yang selama ini bikin saya penasaran. Kota Rupawan, tempat dimana segala sesuatunya berjalan dengan sempurna, tidak ada kekerasan, tidak ada rasa iri, semua orang bahagia. Kau bisa mengoperasi dirimu berkali-kali dan merubah atau menambah beberapa fitur bentuk wajahmu kalau kau mau, hanya untuk mempercantik diri. Refleksmu membaik, staminamu kuat dan tulangmu menjadi proposional, kau bahkan tidak pernah sakit sejak operasi itu. Awesome!

Cute-mentary

Plot yang dibangun dalam Pretties kali ini ada dua fase. Pertama, proses penyesuaian diri. Tally menjadi seorang Rupawan yang praktis membuatnya lupa akan tugasnya untuk beberapa saat hingga ia meminum obat yang diberikan Croy. Berpacaran dengan Zane membuat Tally tetap fokus dan terus berpikir jernih, sayangnya mereka menjadi eksklusif dan membuat teman-temannya merasa terlupakan. Lalu ia bersama Zane memikirkan cara spektakuler untuk kabur agar dapat bergabung dengan warga Smoke. 

Kedua, Tally terpisah dari Zane dan teman-temannya. Sekali lagi kita dibawa kembali pada petualangan di alam liar, jauh dari kota, tempat dimana Tally berjuang menemukan jalan menuju Smoke sendirian. Mirip dengan petualangan Tally di buku pertama. Namun kali ini Scott kembali menguak misteri peradaban baru yang membuat saya penasaran. Misteri dibalik sebuah negara Rupawan. Beberapa fakta yang secara logis bisa saya bayangkan akan terjadi di peradaban mendatang.

Detil deskripsi serta kekayaan ide Scott Westerfeld dalam Pretties tidak membuat saya mengeluh. Karakter kuat Tally tidak terlalu mendominasi karena Scott Westerfeld memberikan porsi karakter lain dengan adil sehingga semuanya memiliki kesan tersendiri. Menurut saya daya tarik dalam novel ini ada pada ide kuat akan dystopia itu sendiri. Dimana sebuah negara  memiliki kekuasaan untuk mengontrol dan memimpin negaranya mencapai tujuan utopis. Dan Scott Westerfeld mempersembahkan sistem kontrol sosial negara ini dalam bungkus Rupawan. Splendid!

Penggunaan tokoh remaja dan konflik khas remaja jelas menunjukkan target pembacanya namun buku ini dapat dinikmati oleh siapa karena polemik yang disuguhkan (meski ringan) tidak bisa dianggap remeh. Banyak potensi kepentingan politik serta hak asasi manusia yang diangkat dan pesan tersebut disampaikan secara sederhana oleh buku ini. Lima bintang saya hadiahkan untuk Pretties.


My reviews of the series:

-----------------^^-----------------
Kamu bisa pesan buku ini via Pretties@Bookoopedia
Review ditulis dalam rangka Lomba Estafet Review Buku #LERB
Tongkat estafet ini aku serahkan pada Ermilinda@Berbagi Cerita Apa Saja
-----------------^^-----------------

0 comments:

Posting Komentar