Judul: Perfect Chemistry
Penulis: Simone Elkeles
Penerjemah: Angelic Zaizai
Penerbit: Penerbit Terakota
Tahun: 2011
Hlm: 452
ISBN: 9786029698787


Review:


Si cewek (kulit) putih yang sering diledek si Putri Salju oleh Alex Fuentes ini bernama Brittany Ellis. Hidup dalam dunia sempurna yang berbeda jauh dari kehidupan Alex sendiri. Hidupnya yang penuh dengan bahaya, kekerasan, dan intrik geng Latino Blood tempatnya bergabung pada akhirnya bergesakan dengan hidup sempurna Brittany Ellis di kelas Kimia.

Saya tidak akan membeberkan jalan ceritanya karena dari sinopsis di belakang buku sudah cukup menjelaskan hampir keseluruhan cerita. Selain itu buku ini sudah terlalu sering di review dengan sangat baik oleh teman-teman blogger.

Mendengar animo positif pembaca di Goodreads dan teman-teman blogger yang ramai-ramai mereview buku ini beberapa bulan lalu membuat saya penasaran dan segera membeli buku ini. Covernya cantik, tebalnya pas, sinopsisnya menarik meski sangat teenlit ternyata membuat saya urung segera membacanya. Bukan karena saya tidak suka teenlit, tapi cuma karena belum mood, dan memang ada buku-buku lain yang lebih menarik perhatian, hehe.

Dan setelah saya membaca ternyata novel ini tak seheboh yang digembar-gemborkan (yah, mungkin masalah selera juga sih). Ceritanya begitu klise dan karakternya sudah sering sekali di daur ulang. Sangat cantik dan sangat tampan dengan segala kecerdasan dan kesempurnaan fisik yang mengesankan. Sayang sekali deskripsi pengarang mengenai karakter-karakter yang perfect-but-not-so-perfect ini menurut kurang flawless dan terlalu memaksa. Pengarang terlalu banyak mengungkapkan perasaan insecure tokoh yang sedang 'berpura-pura' menjadi sempurna atau tangguh padahal menurut saya akan lebih rapi jika pengarang tidak terlalu mengeksposenya secara berlebihan dalam deskripsi supaya pembaca bisa menyimpulkan sendiri sehingga bisa terasa natural.

Kemudian terpikir, mungkin animo bagus karena gaya berceritanya. Oke, gaya berceritanya memang enak, alur cepat meski kurang halus sehingga terkadang saya sering missed. Saya akui humornya bagus. Tapi entah kenapa saya tidak mendapatkan feel "this is it" yang biasanya saya rasakan kalau membaca cerita romance lainnya yang benar-benar bagus. Saya berharap lebih pada ending dari kisah ini, saat para tokoh utama feeling blue, saya mengharapkan Simone bisa lebih sensitif dalam meramu adegan ini tapi entah kenapa saya tetap merasa datar dan biasa-biasa saja. Dengan sangat menyesal saya terpikir untuk memberi dua bintang tapi karena covernya cantik bolehlah saya tambahin jadi tiga bintang.

0 comments:

Posting Komentar