Makalah Rasa Rendah Diri

Posted by

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah Penanganan Anak Berkelainan (Anak Yang Rendah Diri).
Ketika kenulis memulai penyusunan makalah ini hingga penulisannya, sering kali dihadapkan kepada berbagai kesulitan. Hal ini karena masih dangkalnya pengetahuan dan sedikitnya pengalaman yang penulis miliki. Namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat Ibu Enung Nely Komala, S.Pd. selaku Dosen Penanganan Anak Berkelainan.
Penyusunan makalah ini telah disusun sebaik mungkin, namun masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini sangat penulis harapkan.
Mudah-mudahan makalah ini ada gunanya bagi kami khususnya dan bagi dunia pendidikan pada umumnya.


Rancah, 06 September 2010

Penulis



DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ....................................................................................
DAFTAR ISI ..............................................................................................................
PENDAHULUAN ......................................................................................................
ANAK DENGAN PERILAKU INSECURE (Anak Yang Rendah Diri)..................
A.      PENGERTIAN ANAK YANG RENDAH DIRI ..............................................
1.      Perasaan Rendah Diri Sadar (Inferioroty Feelings) ........................................
2.      Perasaan Rendah Diri Tak Sadar (Inferioroty Complex) ...............................
B.       PENYEBAB RASA RENDAH DIRI ................................................................
1.      Realita Non Primer .........................................................................................
2.      Realita Primer .................................................................................................
3.      Realita Pengenalan Diri yang Buruk ..............................................................
4.      Kegagalan Berkali-kali ...................................................................................
5.      Sebab lain-lain ................................................................................................
C.       KEUNIKAN RASA RENDAH DIRI ................................................................
1.      Menikmati .......................................................................................................
2.      Memanfaatkan ................................................................................................
D.      KARAKTERISTIK ANAK RENDAH DIRI ....................................................
E.       BERJUANG MENGATASI SUMBER RASA RENDAH DIRI ......................
F.        MENGATASI RASA RENDAH DIRI ..............................................................
1.      Melawan dengan Cara yang Tidak Sehat .......................................................
2.      Melawan dengan Cara yang Sehat..................................................................
G.      PENANGANAN ANAK YANG RENDAH DIRI ...........................................
1.      Meningkatkan Pemahaman Diri .....................................................................
2.      Mendukung Kompetensi dan Kemandirian Anak ..........................................
3.      Menyediakan Kehangatan dan Penerimaan ...................................................
4.      Fokus pada Hal-hal Positif yang dapat Dilakukan Anak ...............................
5.      Menyediakan Pengalaman yang Konstruktif .................................................
6.      Meningkatkan Percaya Diri Anak ..................................................................
7.      Memberikan Reward (Penghargaan) ..............................................................



PENDAHULUAN

Anak merupakan amanah dari Allah SWT yang dititipkan kepada orang tuanya atau guru. Orang tua memiliki kewajiban untuk memelihara dan menjaga putra putrinya dengan penuh kasih saying. Mendidik dan mengajarkan anak agar memiliki kepribadian muslim, sehingga terwujudnya generasi Islam masa depan yang sholeh / sholeha, sehat, cerdas, kreatif, mandiri, dan berakhlak mulia yang diridhoi Allah SWT.
Guru TK yang ideal selain memilki kemampuan proffesional sesuai standar yang ditetapkan semestinya juga membekali diri dengan berbagai wawasan dan pengetahuan tentang anak didiknya. Hal ini sangat diperlukan agar dapat mengenali karakter setiap anak didiknya dengan baik, meliputi pengenalan tentang perkembangan fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, moral keagamaan, seni dan kreativitas, termasuk permasalahan yang ditemui dalam berbagai aspek perkembangan tersebut. Pengenalan ini sangat penting agar guru dapat mengembangkan potensi dasar setiap anak yang tepat sesuai kebutuhan dan kondisi setiap anak.



ANAK DENGAN PERILAKU INSECURE
(Anak Yang Rendah Diri)

Sebagai guru mungkin sering atau setidaknya pernah menjumpai satu atau beberapa anak memiliki karakter, seperti pencemas, perasaan rendah diri dan pemali. Perilaku-perilaku ini disenut jenis perilaku “Neurotik”, istilah awam yaitu insecure (perasan tidak aman) istilah menggambarkan anak-anak yang secara nyata memiliki kepercayaan diri yang kurang dan merekapun sering kali memiliki perasaan takut dan cemas (Schaefer J. Millman, 1981). Semua anak memilki perasaan-perasaan tersebut namun derajatnya berbeda-beda. Jika dialami secara serius perasaan tersebut dapat menghambat anak dalam berbagai hal. Contoh anak yang rendah diri dan pemalu mungkin menjadi tidak berani mengacungkan jari untuk menjawab pertanyaan guru sekalipun ia tahu jawabannya. Kalau tidak hati-hati mencermati perilaku anak, guru akan salah mengartikan perilaku anak, oleh karena itu, pengenalan dan pendidikan sejak awal dapat membantu kita mengenali anak yang memilki perilaku insecure.
Perilaku-perilaku insecure pada anak dapat dicegah dengan mengasuh anak dalam cara-cara yang dapat meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan optimisme anak, orang tua dan guru, serta pihak-pihak yang terkait dengan anak harus bekerja sama dan membantu anak untuk mengatasi perasaan-perasaannya tadi. Di sini penulis akan mencoba menjelaskan mengenai anak yang rendah diri.

A.      PENGERTIAN
Dalam pengertian sehari-hari, orang sering menyebut anak yang memiliki perasaan rendah diri dengan sebutan minder. Perasaan rendah diri sendiri berkaitan dengan konsep harga diri (self esteem).
Rasa rendah diri adalah keadaan emosi yang mengakibatkan munculnya berbagai perasaan negatif seperti kegelisahan, rasa tidak aman, rasa tidak mampu, takut gagal dan sebagainya.
1.         Perasaan Rendah Diri Sadar (Inferioroty Feelings)
Mendorong dan memotivasi orang untuk hidup dan berkembang
2.         Perasaan Rendah Diri Tak Sadar (Inferioroty Complex)
Melumpuhkan kehidupan seseorang
Orang yang menderita Inferioroty complex, benar-benar merasa diri inferior, sehingga muncul perasaan gelisah, tidak aman, tidak ada apa-apanya, takut, tidak percaya diri, tidak tahu persis apa sebabnya. Orang yang mengalami rasa rendah diri, entah sadar atau tidak sadar akan tampak dari :
a.       Tanda nyata, misalnya : keringat dingin, gemetaran, kata terputus-putus, tidak berani bertatapan mata, serta tidak berani bicara.
b.      Tanda tidak nyata, misalnya : selalu berpakaian bagus tanpa itu merasa kurang diterima, selalu menyanggah pembicaraan sebab takut dianggap tidak tahu apa-apa, mencari kesibukan di tengah pertemuan-pertemuan untuk mendapatkan rasa aman dan dibutuhkan.
Dengan demikian, anak yang rendah diri adalah anak yang memberi penilaian yang rendah terhadap dirinya, termauk kompetensi-kompetensi yang dimilikinya.

B.       PENYEBAB RASA RENDAH DIRI
1.    Realita Non Primer.
·           Realita Rasa Rendah Diri yang ada pada setiap manusia, karena tidak ada seorang pun yang sempurna.
·           Pada umumnya tidak berpengaruh serius dalam kehidupan seseorang, karena bisa diterima.
·           Misalnya, seorang laki-laki bisa merasa rendah diri ketika berhadapan dengan seorang laki-laki lain yang pandai memasak tapi tanpa merasa harus bisa memasak, atau seorang yang baru belajar main tenis bisa merasa rendah diri di tengah-tengah pemain tenis unggulan tanpa merasa harus belajar tenis lebih baik (kecuali memang bertujuan untuk menjadi juara tenis).
2.    Realita Primer.
·           Ketika perasaan Rendah Diri menjadi persoalan utama dalam diri seseorang, maka pengaruhnya dapat serius.
·           Misalnya, seorang alumnus fakultas kedokteran merasa rasa rendah diri dalam pertemuan dengan rekan-rekan sekelasnya yang "laris" dan prospektif dengan memiliki tempat praktik di beberapa Rumah Sakit, sementara ia hanya praktik di Puskesmas daerah terpencil. Akibatnya ia bisa menjadi iri hati, apatis terhadap pekerjaannya, atau bahkan mungkin marah kepada Tuhan, dan sebagainya.


3.    Pengenalan diri yang buruk.
·           Tidak sedikit orang yang sesungguhnya memiliki kemampuan tetapi gagal melihat dan memperlakukan dirinya dengan tepat.
·           Pengenalan diri yang buruk ini dapat disebabkan oleh sikap lingkungan:
-      yang cenderung mengecilkan dirinya, uumpama: sering dikata-katai "bodoh", atau "jelek".
-      yang menuntut lebih dari kemampuannyaa, contoh: orangtua perfeksionis, yang menetapkan standar-standar yang tidak realistis pada anaknya, dapat dipastikan akan menghasilkan perasaan gagal pada diri anak.
4.    Kegagalan Berkali-kali.
·           Kegagalan berulang kali berpeluang besar menimbulkan rasa rendah diri, berawal dari perasaan kecil, putus asa, marah terhadap lingkungan, apatis, bahkan menghina diri.
·           Kegagalan dalam dosa berkali-kali pun dapat membuat orang Kristen menjauhkan diri dari pertemuan ibadah.
5.    Sebab Lain-lain.
·           Penilaian mayoritas, umpama: orang kampung biasanya dianggap sebagai "orang bodoh" sehingga kebanyakan dari padanya merasa rendah diri ketika datang ke kota.
·           Perlindungan yang berlebih-lebihan (over protection). Misalnya, anak-anak yang dimanja dan jarang dibiarkan belajar menghadapi kesukaran hidup, akan cenderung menjadi orang yang berkepribadian lemah, mudah frustrasi terhadap kegagalan dan tantangan hidup.

C.      KEUNIKAN RASA RENDAH DIRI
Perilaku seseorang yang mengalami Rasa Rendah diri adakalanya negative, seperti : hati marah, benci, tapi kadang kala positif, seperti : sabar mendengar, rela bekerja. Bersamaan dengan itu, terdapat dua kecenderungan sikap hati menghadapinya :
1.         Menikmati
Tidak sedikit orang yang mengatakan terus terang akan keadaan rendah dirinya (missal : kehidupannya tidak karuan, keluarga berantakan dan sebagainya) karena tahu dengan pengakuan itu akan menimbulkan simpati dan belas kasihan orang lain.
2.         Memanfaatkan
Pada umumnya orang-orang yang ingin sukses dan ingin lebih superior dari yang lain adalah orang yang memanfaatkan inferiority. Kebanyakan orang dalam kelompok ini mempunyai kepekaanyang tinggi dan mempunyai keinginan sukses dalam hal yang ia keluhkan.

D.      KARAKTERISTIK ANAK RENDAH DIRI
1.         Tidak mau bersaing positif seperti persaingan kepandaian, lomba mengarang dan balap sepeda.
2.         Tidak optimis dari usaha mereka
3.         Segala sesuatu selalu dilihat salah
4.         Selalu ragu dalam bertindak
5.         Selalu menarik diri dan menyendiri dari lingkungan
6.         Sering merasa bahwa reward (penghargaan) yang mereka terima disebabkan oleh keberuntungan dan adanya kesempatan, bukan dari tindakan mereka sendiri.
7.         Frustasi dan rasa marah kurang dapat dikendalikan dan pada gilirannya sering menghasilkan perilaku balas dendam terhadap orang lain atau dirinya sendiri.
Namun anak secara berangsur-angsur lebih mengambangkan rasa percaya diri dan merasa lebih mandiri dan bebas. (Sehaefer J. Millman, 1981)

E.       BERJUANG MENGATASI SUMBER RASA RENDAH DIRI
1.         Mengenali sumber rasa rendah diri adalah baik, tetapi bukan berarti pasrah diri dengan keadaan rendah diri itu.
2.         Celakanya banyak orang yang gagal mengatasi rasa rendah dirinya oleh karena tidak mau mengatasi kelemahan bahkan menikmatinya. Banyak orang berkanjang dalam dosa tanpa mau membuangnya.

F.       MENGATASI RASA RENDAH DIRI
1.         Melawan dengan cara yang tidak sehat
a.         Menyembunyikan perasaan rendah diri dengan terus mencoba mematikannya, misalnya denga cara menunjukan rasa percaya diri secara demonstratif. Kelihatannya ia lewat, padahal dalam hatinya ia merasa tidak aman.
b.        Mengaktifkan reaksi psikosomatis, melalui bentuk-bentuk sakit perut, asma, pusing dan sebagainya. Sehingga  sewaktu tekanan datang, reaksi ini segera muncul dan akibatnya ia memanfaatkan rasa rendah dirinya sebagai alasan untuk tidak lagi memikul tanggung jawabnya.
c.         Membanggakan parasaan rendah diri. Dengan cara menceritakan interioritynya kemana-mana ia akan mendapatkan simpati dan “maaf” atau maklum dari orang lain.
d.        Mengembangkan “roh kritik”. Senang mencela dan menjelek-jelekan orang lain adalah bukti dari Perasaan Rendah Diri, yakni perasaan tidak cukup dan tidak puas terhadap realita kehidupannya. Disatu pihak, dengan mengkritik orang lain ia menemukan kambing hitam dari ketidakpuasannya dan di pihak lain ia menemukan “Perasaan Superior”.
2.         Melawan dengan cara yang sehat
a.         Mengenali dan menghargai anugerah / talenta yang diberikan Allah. Rasa Rendah Diri pada umumnya timbul oleh karena :
1.        Tidak mengenal anugerah dan kelebihan yang diberikan Allah.
2.        Tidak menghargai anugerah/talenta yang diberikan Allah.
-            Membuat standar sendiri sehingga timbul penilaian diri yang tidak klop dengan yang sesungguhnya dimiliki.
b.        Mengubah konsep diri yang buruk
1.        Kita dipanggil untuk mengenali kelemahan kita, bukan untuk memikirkan diri lebih rendah dari yang seharusnya.
G.      PENANGANAN ANAK YANG RENDAH DIRI
1.         Meningkatkan Pemahaman Diri
Anak diberi pengertian bahwa tidak ada orang yang sempurna dan semua memiliki kekuatan dan kekurangan yang berbeda-beda
2.         Mendukung Kompetensi dan Kemandirian Anak
Anak perlu dilatih untuk melakukan keterampilan yang sesuai dengan usianya dan dijamin bahwa ia akan memperoleh perasaan aman dalam proses menguasai keterampilan tersebut. Jika anak menghadapi masalah, beri ia dorongan untuk berpikir, serta berikan bantuan jika hal itu benar-benar ia butuhkan.
Ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan harga diri anak diantaranya : meminta anak untuk memberikan solusi alternatif terhadap suatu permasalahan sederhana, memperlihatkan sejumlah gambar dan meminta anak untuk menceritakan dan menilai situasi yang ada dalam gambar tersebut. Untuk itu dengarkanlah secara seksama penuturan anak, serta berikan dukungan dan menghargai pendapat anak. Dapat juga meberikan solusi yang mungkin kepada anak untuk mangatasi suatu persoalan dan meminta anak untuk memilih solusi mana yang lebih baik.
3.         Mnyediakan Kehangatan dan Penerimaan
Dukungan emosional maerupakan hal yang penting karena anak membutuhkan perasaan aman, yaitu perasaan bahwa kita berada di dekatnya. Mengekspresikan optimisme anda terhadap apa yang sedang dilakukan anak, misalnya dengan mengatakan “ya bagus, kamu pasti bisa!”
4.         Fokus pada Hal-hal Positif yang dapat dilakukan Anak
Perlu mengenali dan mendukung kekuatan anak. Fokuskan pada kelebihan dan bukan pada kekuatan/kelemahan anak. Catatlah hal-hal yang baik tentang anak, baik keterampilan maupun usaha-usaha yang dilakukannya.
5.         Menyediakan Pengalaman yang Konstrukti
Merencanakan bermacam-macam kegiatan dan menggunakan cara-cara yang tepat untuk menjamin agar anak mau berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Pengalaman konstruktif hendaknya dibuat secara realisasi, dengan tujuan yang dapat dicapai.
6.         Meningkatkan Percaya Diri Anak
Keprcayaan diri berangsur-angsur ditingkatkan dengan pengalaman keberhasilan yang berulang. Buatlah tugas yang sebisa mungkin dapat diselesaikan oleh anak dan ajari anak untuk mentoleransikan kegagalan. Dengan memberi tahu anak bahwa kegagalan dapat ditoleransi ketika anak diberi pengertian bahwa mereka sudah melakukan sesatu yang terbaik.
7.         Memberikan Reward (Penghargaan)
Setiap kali anak menunjukan sikap optimisme dan tidak mudah kecil hati, beri ia reward yang dapat memperkuat perilakunya. Salah satu bentuk rewad adalah dengan memberikan sesuatu yang disukai anak.


Related Post